Di kawasan Geopark Kladera Toba terdapat 4 kelompok etnis, yaitu Batak Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak. Ke-empat etnis ini memiliki kemiripan dalam ekspresi budaya meskipun terdapat variasi-variasi yang lebih spesifik, misalnya dalam bentuk arsitektur, tekstil dan kemiripan dalam system kekerabatan yang disebut dengan marga (clan system). Keunikan dari suku Batak ini diuraikan sebagai berikut:



Suku Batak Sangat Memuliakan Leluhurnya

Tugu makam Marga Silalahi di Geosite Silahi Sabungan
Hal ini di perlihatkan dari visibility makam yang dibangun oleh suku Batak dengan bangunan yang indah bahkan adakalanya lebih indah dari rumah mereka. Pendirian tugu makam berhubungan dengan sistem kepercayaan tradisional orang Batak Toba yang masih percaya akan eksistenssi roh nenek moyang suku Batak. Aktualisasi kepercayaan itu terwujud dalam pembangunan tugu leluhur yang dianggap merupakan perwujudan penghormatan dari keturunan marga yang mendirikannya. Kelompok etnik Batak Toba mendirikan tugu pada awalnya berdasarkan kosepsi kepercayaan tradisonal yang mempercayai adanya eksistensi roh leluhur mereka dalam kehidupan masyarakat. Pemujaan roh nenek moyang itu termanifestasikan dalam pembangunan tugu. Secara simbolis tugu tersebut mengekspresikan suatu pemujaan terhadap arwah nenek moyang yang muncul akan adanya pengharapan akan ditambahnya hasil¬hasil pertanian dalam kegiatan ekonomi mereka dan keberkahan para leleuhur dalam memperoleh keturunan dan juga ternak. Semua menurut mereka akan terwujud jika ada berkat dari para leluhur mereka. Tugu yang dibangun oleh setiap marga dari kelompok Batak Toba sebenamya menggambarkan bahwa dalam setiap pendirian tugu tersebut mereka berusaha mencari dirinya sendiri, identitasnva. dan dengan demikian juga berlaku untuk nenek moyangnya. Selain itu juga memiliki fungsi dan makna yang mencerminkan tingginya harapan orang Batak akan berkat yang hendak dilimpahkan oleh roh bapa leluhurnya.
Filosofi Dalihan na Tolu
Filosofi ini memiliki makna hubungan/relasi sosial yang ada di dalam masyarakat dan masih berlangsung sampai sekarang. Kalau diartikan langsung “Dalihan Natolu” adalah “Dalihan” artinya sebuah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan “Dalihan Natolu” ialah tungku tempat memasak yang diletakkan diatas dari tiga batu. Ketiga dalihan yang dibuat berfungsi sebagai tempat tungku tempat memasak diatasnya. Dalihan yang dibuat haruslah sama besar dan diletakkan atau ditanam ditanah serta jaraknya seimbang satu sama lain serta tingginya sama agar dalihan yang diletakkan tidak miring dan menyebabkan isinya dapat tumpah atau terbuang.

Dulunya, kebiasaan ini oleh masyarakat Batak khususnya Batak Toba memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku jika diterjemahkan langsung dalam bahasa Batak Toba disebut juga dalihan natolu. Namun sebutan dalihan natolu paopat sihalsihal adalah falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak. Dan ini dituangkan dalam umpasa batak:

“Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.”

Menghargai Setiap Moment Peristiwa Penting dalam Kehidupannya dengan Ulos

Upacara kematian mempergunakan ulos
Makna Kain Ulos Bagi Orang Batak, Ulos batak tidak bisa lepas dari pelaksaan adat bagi orang Batak. Hal ini sudah berlangsung ratusan tahun. Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya masyarakat Batak yang merantau dan bercampur dengan suku (menikah dengan suku lain), sedikit tradisi pemberian ulos dan di campur dengan kalimat pantun (semacam doa).

Mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap upacara adat baik didalam upacara adat Perkawinan, upacara adat Kematian, Tujuh Bulanan, Memasuki Rumah Baru. Jenis-jenis Ulos yang paling sering digunakan dalam setiap upacara adat seperti dalam (a) upacara Pernikahan adalah sebagai berikut: Panssamot, Ulos Holong, Ulos Sadum, (b) Ulos dalam upacara Kematian yaitu : Ulos Saput dan Ulos Tujung, Ulos Ragihotang, Ulos Sampetua dan Ulos Holong (c) Ulos yang digunakan dalam upacara Memasuki Rumah Baru yaitu: Ulos Sampetua (d) Ulos yang digunakan dalam upacara adat Tujuh Bulanan yaitu Ulos Bintang Maratur dan Ulos Mulagabe.

Memiliki Budaya Partuturan yang Sangat Unik

Budaya Partuturan adalah panggilan atau sapaan terhadap keluarga dengan berbagai hubungan keluarga, terdapat setidaknya 36 panggilan, antar lain
  1. Ale-ale = teman akrab, bisa saja berbeda marga
  2. Amang Naposo = anak (lk) abang/adik dari hula-hula kita
  3. Amang/ damang/ damang parsinuan =ayah, bapak, sapaan umum menghormati kaumlaki-laki
  4. Amangbao = suami dari adik/ kakak (pr) (eda) suami kita
  5. Amangboru = suami kakak atau adik perempuan dari ayah
  6. Amangtua mangulaki = kakek ayah
  7. Amangtua = abang dari ayah, suami dari kakak ibu, suami dari pariban ayah yang lebih tua
  8. Amanguda = adik laki-laki dari ayah, suami dari adik ibu, suami dari pariban ayah yang lebih muda
  9. Amanta/ amanta raja = kaum laki-laki yang biasa dipanggil pada sebuah acara adat
  10. Ampara = sapaan umum buat yang se-marga, marhaha-maranggi (abang-adik) untuk yang laki-laki
  11. Anakboru = perempuan yang masih gadis atau belum menikah
  12. Anggi doli = suami dari anggiboru. Adik (lk) sudah kawin.
  13. Anggi = adik kita (lk), adik (pr) boru tulang
  14. 1Anggiboru = isteri adik kita yang laki-laki, istri dari adik yang satu marga
  15. Angkang boru = isteri abang satu marga

Memiliki Tarombo (Pohon Keluarga yang Sangat Besar)

Pohon silsilah (tarombo salah satu marga)
Tarombo Batak adalah silsilah garis keturunan secara patrilineal dalam suku Batak. Sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat suku bangsa Batak untuk mengetahui silsilahnya agar mengetahui letak hubungan kekerabatan terkhusus dalam falsafah Dalihan Natolu. Marga dalam suku Batak diambil dari nama Si Raja Batak. Si Raja Batak kemudian mempunyai keturunan dan nama-nama dari keturunannya inilah yang kelak berkembang menjadi marga- marga suku Batak (Siahaan: 1964). Turunan leluhur Si Raja Batak mendiami daerah Sianjur Mula-Mula (daerah Samosir). Kemudian sebagian besar dari mereka kemudian menyeberangi Danau Toba, lalu berpencar ke segala penjuru mendiami daerah-daerah yang ada di Sumatera Utara. Persebaran ini kemudian berkembang hingga keluar Sumatera Utara. Pola imigrasi masyarakat Batak tersebut bermula dari Pusuk Buhit (Sianjur MulaMula) yang terletak di Pulau Samosir, sampai pada pembukaan lembah-lembah baru yang meluas dan memanjang di garis pantai selatan Danau Toba (Siahaan, 1964).

Mengangkat Derajat Keturunan dengan Prinsip: Hamoraon Hagabeon Hasangapon

Filsafah Hidup Masyarakat Batak: Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon. Di setiap lingkaran sebuah masyarakat pasti akan ada budaya yang mengalir yang menjadi identitas dari masyarakat itu sendiri. Seperti contohnya dalam lingkar kehidupan masyarakat Batak yang terkenal dengan 3 filsafahnya yang sering disingkat menjadi 3H, yaitu Hamoraon yang berarti memiliki kekayaan atau memiliki banyak harta. Hasangapon yang didefinisikan memiliki kehormatan atau kemuliaan bisa diartikan juga memiliki status sosial yang tinggi dan terakhir adalah Hagabeon yang bisa diartikan memiliki keturunan atau beranak cucu.
Ilustrasi filosopi Hagabeon hamoraon hasangapon
Tiga nilai luhur yang seyogyanya dijiwai dalam setiap aktivitas masyarakat Batak Toba baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pertemuan keluarga dan acara adat.
  • Hamoraon
  • Hamoraon berasal dari kata mora, yang artinya kaya. Secara harafiah, hamoraon artinya adalah kekayaan.

  • Hagabeon
  • Hagabeon berasal dari kata gabe, yang artinya mempunyai banyak keturunan (mempunyai anak laki-laki dan perempuan). Secara harafiah, hagabeon artinya adalah banyak turunan.

  • Hasangapon
  • Hasangapaonberasal dari kata sangap, yang artinya terhormat, mulia. Secara harafiah, hasangapaon artinya adalah kemuliaan.


Mencintai Pendidikan (Anakhonki Do hamoraon Do au)

Filosofi orang Batak dalam bidang pendidikan adalah bahwa halak kita menganggap pendidikan adalah jalur mencapai kemajuan. Artinya, tidak ada perbedaan sikap di antara golongan pendidikan dalam usaha menyekolahkan anak. Baik orangtua yang tidak berpendidikan maupun yang berpendidikan sama-sama berkeinginan keras menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang lebih tinggi, sesuai kemampuan.

Dengan demikian, semua golongan orang Batak memandang bahwa demi kemajuan, maka anak-anaknya harus memperoleh pendidikan setinggi-tingginya.

Memiliki Aksara batak

Aksara Batak dalam pustaha laklak

Tradisi tulis Batak terkenal di antara sepuluh tradisi tulis lain karena telah menghasilkan buku-buku yang sangat menakjubkan, terbuat dari kulit kayu yang berlipat-lipat, berisi aksara yang khas dan gambar magis yang misterius. Tradisi ini sudah hampir punah. Buku kulir kayu (pustaha), juga bambu dan tulang beraksara, kini menjadi barang perpustakaan museum, dan kebanyakan berada di luar negeri.

Uli Kozok, warganegara Jerman yang belasan tahun mempelajari kebudayaan Batak dan meneliti ratusan naskah, dalam buku ini menguraikan segala sesuatu yang bertalian dengan aksara Batak: dari teknik pembuatan pustaha sampai sejarah perkembangan bentuk aksara, jenis aksara yang pernah beredar di Sumatra Utara, bentuk aksara cetak yang dipakai selama satu setengah abad sampai sekarang, hingga bentuk aksara komputer yang kini tersedia.


Memiliki Legenda yang Dekat dengan Kejadian Alam

Beberapa legenda batak dari mulai asal mula orang Batak, Terjadinya danau Toba dan legenda batu gantung serta banyak lagi legenda dan mitos di kawasan Geopark kaldera Toba, umumnya menceritakan kejadian gempa dan fenomeda alam. Hal ini sangat erat dengan gempa yang terjadi dengan letusan gunung api Supervulkano.