Toba Caldera UNESCO Global Geopark Siap Semarakkan 2026 dengan Deretan Event Internasional dan Daerah
Selasa, 3 Februari 2026Investasi Pertanian dan Agroforestry: Pilar Ekonomi Hijau. menuju Masa Depan Berkelanjutan
Kamis, 19 Februari 2026Dimulai dari Pusuk Buhit
Direktur Pusat Kajian Geopark Indonesia (PKGI), Dr Wilmar E. Simandjorang, dan General Manager Toba Caldera UNESCO Global Geopark, Dr Azizul Kholis, menginisiasi gerakan penanaman pohon di kawasan Kaldera Toba sebagai bagian upaya menyeluruh dari misi pelestarian wilayah kaldera yang mencakup 7 kabupaten di Sumatera Utara itu.
“Kita sengaja mengambil titik di sini, karena Pusuk Buhit adalah pusat awal spritualitas kebudayaan Batak. Dengan demikian, kita berharap bahwa semangat pelestarian ini dapat juga bermula dari sini, lalu berkembang ke seluruh wilayah budaya Batak lainnya, atau yang disebut sebagai bona pasogit,” ungkap Azizul di sela-sela kegiatan menanam bibit pohon, Senin (16/2/2026).


Kegiatan ini didukung oleh sejumlah tokoh masyarakat, pejabat nasional, dan daerah. Di antaranya, senator DPD RI asal Sumut, M. Nuh, Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk, dan jajaran OPD terkait.
Kegiatan menanam pohon dalam program penghijauan kawasan dilakukan untuk percepatan pemulihan ekosistem dinding kaldera yang sempat mengalami kebakaran cukup luas sepanjang musim kemarau tahun 2025. Areal hutan turut terbakar dan membuat sejumlah kawasan terancam kehilangan daya dukungnya untuk menahan potensi bencana, berkurangnya cadangan air, dan terancamnya aktivitas pertanian.
“Dalam rekomendasi UNESCO yang dibacakan pada Sidang ke-11 di Chile, menyusul hasil revalidasi Toba Caldera UNESCO Global Geopark, masalah kebakaran ini juga disinggung oleh panel. Untuk itu, kita dituntut untuk menunjukkan upaya serius dan nyata dalam mengembalikan ekosistem kawasan sebagai bagian dari misi konservasi kekayaan hayati,” jelas Azizul.
Direktur PKGI, Wilmar Simandjorang, menyebutkan, usaha-usaha pelestarian kawasan geopark harus melibatkan seluas mungkin inisiatif lokal, sehingga masyarakat dengan sendirinya teredukasi tentang pentingnya mempertahankan fungsi dan daya dukung lingkungan.
“Tidak harus selalu dimulai dari program pemerintah. Inisiatif seperti ini bisa dimulai dari mana saja. Melalui tindakan kecil, melalui keteladanan, dan sebagainya. Kami berharap, kegiatan ini dapat menjadi lonceng panggilan untuk semua pihak dan kalangan, untuk melakukan pemeliharaan dan aksi penghijauan secara berkelanjutan. Kita memiliki suatu situs geopark kelas dunia. Sudah saatnya kita menjaga dan mengelolanya dalam bentuk tanggung jawab yang juga disaksikan oleh dunia. Ini merupakan misi kebangsaan,” tambah Wilmar.
Program aksi penanaman pohon ini akan dilakukan hingga target 1.000 bibit pohon terealisasi sebagaimana dicanangkan semula.
