Festival Aksara Batak Toba 2026 Dimulai, Workshop Jadi Ruang Kolaborasi Generasi Muda
Jumat, 27 Maret 2026“Kami Masih Ada…”
Labuhan Marbun duduk tenang di kursi undangan yang terbuat dari plastik. Dia mengenakan T-shirt putih yang dibagikan secara gratis oleh Hariara Institute, LSM lokal yang bergerak dalam isu lingkungan dan kebudayaan di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Di salah satu sudut T-shirt itu tertera logo Bank Sumut, yang menjadi salah satu sponsor kegiatan yang dihadirinya. Pada bagian bahunya tertulis, “Bersatu Menjaga Danau”. Dan di bagian dada, tercetak “Forum Nelayan Danau Toba”.
Hari itu adalah 8 April 2026, bertepatan dengan Hari Nelayan Nasional ke-66 yang diperingati saban tahun untuk menghormati para nelayan sebagai pejuang pangan dan budaya Nusantara. Atas inisiatif Hariara Institute, diadakanlah suatu kegiatan peringatan di open stage Dermaga Pelni Baktiraja Humbang Hasundutan. Acara ini dihadiri berbagai unsur pemangku kepentingan seperti pemerintah kabupaten, kecamatan, Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark, tokoh masyarakat, dan para nelayan perairan danau. Tampak hadir di kursi terdepan, Wakil Bupati Humbang Hasundutan, Junita Rebeka Marbun bersama para asisten, pimpinan OPD, dan anggota dewan.
Labuhan Marbun tiba di lokasi acara bersama puluhan rekannya yang sehari-hari bekerja menangkap ikan sebagai nelayan danau. Pada peringatan HSN ke-66 ini mereka akan mengucapkan suatu kebulatan tekad untuk menjadi bagian dari pelestarian danau dan ekosistemnya demi mempertahankan daya dukung lingkungan danau terhadap sumber penghasilan nelayan tangkap.

“Kami masih tetap mencari ikan di danau, Bang,” ucap pemuda berusia sekitar 30-an tahun itu.“Meskipun penghasilannya tidak selalu dapat menutupi kebutuhan sehari-hari, tapi pekerjaan ini sudah kami lakukan sejak kecil Bersama orang tua kami,” tuturnya.
Di perairan Baktiraja, Labuhan Marbun menangkap ikan dengan menggunakan solu (perahu kecil), yaitu modul alat tangkap yang terbuat dari sebatang kayu ingul, dan bentuknya diadaptasi sedemikian rupa agar sesuai dengan karakter perairan danau, dan muat untuk dua orang. Dari atas solu, dia memasang doton (jaring ikan) dengan harapan dapat memerangkap mujair dan pora-pora. Kegiatan menangkap dengan car aini mereke sebut dengan “mardoton”.
“Satu hari, saya bisa menghasilkan tangkapan rata-rata 4 kg. Sebagian adalah mujair, dan sebagian lagi pora-pora yang berukuran kecil,” ujarnya.
Ikan pora-pora adalah varietas asli Danau Toba yang biasanya hidup di sekitar muara sungaiKetika bertemu dengan danau. Sedangkan mujair merupakan jenis ikan introduksi yang datang kemudian. Adapun ikan-ikan asli lainnya, seperti ihan batak, semakin jarang ditemukan karena munculnya jenis-jenis ikan baru yang bersifat ekspansif seperti red devil.
Dari tangkapan hari ini, Marbun kemudian menjual hasilnya ke Dolok Sanggul dengan harga Rp 30.000/kg untuk ikan mujair, dan Rp 15.000//kg untuk pora-pora. Agar tidak memerlukan waktu lama di pasar, ia memilih jual sistem tolak ke pedagang pengumpul.



Sebagaimana pengakuan Marbun, hasil tangkapan ikan sebagai nelayan danau tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka. Oleh sebab itu, di samping menjadi nelayan, dia juga mengerjakan sawah. “Menjadi nelayan adalah pekerjaan paruh waktu,” katanya.
Menurut informasi dari Dinas Perikanan Pemkab Humbahas, produksi ikan danau dari perairan Baktiraja adalah kurang dari 2 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan ikan di kabupaten itu mencapai 8 ton, sehingga mereka harus mendatangkan 6 ton ikan dari luar, termasuk ikan laut dari kawasan pesisir.
“Dari pengamatan kami, tidak terjadi penurunan hasil tangkapan ikan sejak dahulu. Tetapi mungkin memang ada perubahan jenis ikan yang tertangkap. Sekarang ini, nelayan sebenarnya sangat mengandalkan tangkapan jenis mujair yang disinyalir lolos dari keramba-keramba jaring apung,” papar Kadis.
Tetapi belakangan ini Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Sumut mengeluarkan larangan terhadap seluruh keramba jaring apung di perairan Danau Toba karena praktiknya telah memberikan dampak terhadap lingkungan berupa penurunan parameter kualitas air danau. Menurut sejumlah pakar lingkungan, fenomena itu disebabkan oleh praktik keramba jaring apung yang makin meluas dan tidak terkendali di Danau Toba. Pada tahun lalu, Masyarakat sempat heboh karena ribuan ikan mati dengan cara mengapung, dan air danau di sejumlah kawasan dangkal berubah menjadi coklat-keruh.
Dengan keluarnya keputusan pelarangan itu, maka tertutuplah upaya pemerintah kabupaten melalui Dinas Perikanan untuk membuka peluang untuk peningkatan produksi ikan danau melalui praktik budidaya keramba jaring apung. Para nelayan mengaku, masalah pokok yang merugikan mereka dalam aktivitas penangkapan ikan bukanlah desakan keramba, melainkan sampah plastik rumah tangga yang dibawa hanyut melalui sungai ke danau. Jaring mereka sering menjadi berat karena penuh sampah, dan berpotensi merusak peralatan tangkap tersebut.
Perairan Baktiraja memiliki sungai-sungai terbesar yang bermuara ke Danau Toba. Aliran sungai itu melewati pemukiman penduduk. Menurunnya kualitas air danau juga telah menimbulkan dampak lain berupa perkembangan encek gondok, terutama di pinggiran danau yang merupakan wilayah penangkapan ikan nelayan. Pada musim-musim tertentu, angin kencang bisa membawa enceng gondok dariimana-mana, hingga menutupi pinggiran danau.
Direktur Hariara Institute, Barita Lumbanbatu, menyebutkan, kehidupan nelayan Danau Toba semakin termarjinalkan oleh perubahan lingkungan dan budaya masyarakat. Pemerintah, katanya, perlu memberikan perhatian terhadap mereka, sebab keberlanjutan hidup nelayan sangat terkait dengan upaya pelestarian kawasan Danau Toba.
“Dalam hal pangan, saya sangat yakin bahwa Ibu rumah tangga adalah yang paling bijak dalam membagi dan memenuhi kebutuhan pangan anak-anaknya. Para nelayan ini bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangan anak-anaknya. Akan tetapi ada Ibu besar yang lebih penting dijaga untuk mampu memberikan keberlanjutan hidup kepada kita semua, yaitu Ibu Bumi,” papar Barita.




Sementara itu, Manager Divisi Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan, Debbie R. Panjaitan, yang memberikan sambutan mewakili Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark, mengingatkan kembali akan arti penting dan strategisnya berbagai pengakuan nasional dan internasional terhadap kawasan Kaldera Toba yang terbentang di 7 kabupaten. “Toba Caldera adalah kawasan yang menyandang dua predikat penting, yaitu sebagai kawasan strategis pembangunan nasional dan diakui dalam jaringan UNESCO Global Geopark. Kawasan ini juga memiliki keunggulan geologis karena dihasilkan oleh sebuah peristiwa super-volcano, dengan situs yang luas, serta memberikan dampak secara global. Adapun Geosite Bakkara-Tipang ini terletak di sumber letusan ke-empat yang tercatat sebagai letusan terbesar dan terdahsyat di dunia dalam 3 juta tahun terakhir. Oleh sebab itu, kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bisa menghargai nilai geologis dan historis geosite ini dengan jalan pelestarian dan pemberdayaan masyarakatnya, termasuk nelayan,” papar Debbie.
Acara peringatan Hari Nelayan Nasional ke-66 di Baktiraja dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan budaya dan kreasi, musik, tarian, dan ditutup dengan pelepasan ikan ke danau secara simbolik sebagai upaya pelestarian lingkungan. (*)