Investasi Pertanian dan Agroforestry: Pilar Ekonomi Hijau. menuju Masa Depan Berkelanjutan
Kamis, 19 Februari 2026Menggali Pengetahuan, Merawat Warisan Budaya
Manager Divisi Pengelolaan Warisan Geologi, Keanekaragaman Geologi, Keanekaragaman Hayati, dan Keanekaragaman Budaya Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark (BP TC-UGGp), Petrus Parlindungan Purba, membuka secara resmi workshop aksara Batak dengan tema “Menggali Pengetahuan, Merawat Warisan Budaya”, Sabtu (14/3), di Museum Daerah Sumatera Utara, Medan.
Workshop ini merupakan rangkaian dari program Festival Aksara Batak Toba 2026, dengan menghadirkan tiga pembicara, masing-masing Prof. Dr. Uli Kozok, M.A. (Peneliti Aksara dan Sastra Batak), Drs. Nelson Lumbantoruan, M.Hum. (Peneliti dan Pemerhati Budaya Batak), dan Manguji Nababan, S.S., M.A. (Kepala Pusat Dokumentasi dan Studi Budaya Batak UHN Medan). Workshop sendiri berlangsung selama dua hari, dimulai 14 Maret hingga 15 Maret 2026.
Dalam sambutannya, Petrus Purba, mengatakan, BP TC-UGGp Provinsi Sumut sangat mengapresiasi kegiatan workshop ini karena dilaksanakan oleh kalangan generasi muda,utamanya para pemuda dari bangsa Batak. “Di tangan merekalah akan tetap lestari aksara Batakini. Kita akan senantiasa berupaya mengawal dan memfasilitasi berbagai kegiatan bersama mereka ke depan,” tuturnya.



Badan Pengelola TC-UGGp dalam mandatnya sebagai pengelola Geopark Kaldera Toba memiliki tiga misi, yaitu pelestarian kekayaan geologi, kekayaan hayati, dan kekayaan budaya. “Aksara Batak sendiri adalah salah satu unsur yang menjadi kekayaan budaya non-benda yang harus kita jaga. Sebab, aksara ini pastilah mengandung pengetahuan tertentu yang dihasilkan dari perjalanan panjang masyarakat Batak, selain fungsinya sebagai identitas lokal,” papar Petrus lebih lanjut.
Secara daring, Prof. Dr. Uli Kozok, M.A., menyampaikan dari Hawai, bahwa aksara Batak adalah suatu aksara dengan lima varian, yaitu aksara Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, dan Angkola-Mandailing. Masing-masing menyebut aksara ini dengan nama yang sama, yaitu “Surat Sampulu Sia (Toba) atau Surat Sepuluh Siwah (Karo)”.
Uli Kozok juga memaparkan, masyarakat Batak pernah membuat usaha standarisasi aksara ini di Medan pada 17 Juni 1988. Diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, kegiatan tersebut menyusul Keputusan Presiden No. 116/B/1987. “Hasil lokakarya ini dikritik oleh para ahli. Termasuk saya sendiri, karena menghasilkan bentuk aksara yang janggal dan menyimpang dari naskah asli, sehingga tidak diberlakukan secara luas,” ungkapnya.
Sementara itu, Drs. Nelson Lumbantoruan, M.Hum. mengingatkan bahwa aksara Batak sudah diakui dan terdaftar di UNESCO. Oleh sebab itu, melalui kegiatan ini, ia mengajak menggali kembali pengetahuan tentang aksara Batak. “Syaratnya adalah, kaum muda harus dapat menunjukkan sikap terbuka pada kebenaran penelitian, yang tentu akan menimbulkan perdebatan akademik,” ujarnya.
Manguji Nababan, S.S., M.A. melengkapi paparan pembicara sebelumnya dengan menyampaikan catatan kritis terhadap manuskrip Batak. Di antaranya, jumlah naskah Batak di Indonesia belum jelas, naskah di Tanah Batak (masyarakat) banyak yang belum tersentuh, naskah di tangan masyarakat dimaknai sebagai benda pusaka alih-alih sebagai benda Pustaka, dan kondisi naskah di masyarakat dan di sebagian institusi publik kurang terawat/terancam. “Saat ini, institusi di Sumut yang menyimpan naskah kuno adalah Museum Negeri Sumut, Museum Simalungun, Museum T.B. Silalahi, Museum Inkulturatif, dan Museum Lingga. Dan dari 10 negara Eropa, hanya 6 negara yang sudah ada katalogisasi koleksi naskah Batak,” sebutnya.
Inisiator Festival Aksara Batak, Marfenas Marolop Sihombing, S.Pd, M.Sn, yang sekaligus bertindak sebagai Pimpinan Produksi Festival Aksara Batak Toba 2026, menyampaikan, kegiatan Workshop Aksara Batak Toba ini diselenggarakan sebagai ruang perjumpaan bagi berbagai elemen yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian aksara Batak, mulai dari peserta kompetisi menulis aksara Batak, para pegiat seni budaya, ketua dan perwakilan sanggar, hingga para aktor terpilih dari kegiatan kebudayaan yang naskahnya dia tulis.
“Saya meyakini bahwa aksara Batak bukan hanya sekadar sistem tulisan, tetapi juga jejak pengetahuan, spiritualitas, dan identitas budaya Batak yang harus terus dihidupkan melalui praktik bersama. Karena itu, kami juga mengundang tim Geopark Kaldera Toba untuk membuka kegiatan ini sebagai simbol bahwa pelestarian budaya dan warisan alam di kawasan Danau Toba berjalan beriringan. Kehadiran para narasumber seperti Nelson Lumban Toruan, Manguji Nababan, dan Uli Kozok yang bergabung secara daring dari Hawai, serta seniman perupa Ferdinan Sibagariang, diharapkan menjadi kekuatan penting yang memperkaya pemahaman peserta dari berbagai perspektif,” paparnya.
Menurut Marfenas, workshop ini tidak hanya berfokus pada diskusi dan pemaparan materi, tetapi juga memberi ruang praktik kepada peserta. Pada sesi terakhir, diadakan kompetisi menulis di laklak (kulit kayu) sebagai bentuk latihan langsung sekaligus upaya menghidupkan kembali tradisi literasi Batak yang dahulu dituliskan pada media alami. Para pemenang dari kompetisi ini nantinya diundang kembali untuk tampil pada acara puncak Festival Aksara Batak Toba yang direncanakan berlangsung pada 2 Mei 2026 di Taman Budaya Sumatera Utara.
“Harapan saya, kegiatan ini menjadi langkah kecil namun berarti untuk menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap aksara Batak serta memperkuat jejaring para pelaku budaya yang terus bekerja menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat masa kini,” imbau Marfenas.

Selain workshop, pada kegiatan ini dilakukan juga penandatanganan MoU antara Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark (BPTCUGGp) dengan 4 (empat) organisasi,yaitu Komunitas Jejak Seni dan Sastra yang diketuai oleh Ovi Vensus Hamubaon Samosir, S.Sos, M.Si, Sanggar Seni Budaya Melodius yang diketuai oleh Ruth Melody Misbow Siallagan S.Pd, M.Sn, Deli Nusantara Jaya yang diketuai oleh Ririn Prabuati, dan Komunitas Ragam SeniInspiratif yang diketuai oleh Ibnu Hajar, M.Pd. (*)