Thematic : Geo-Culure Diversity

  • Kodon-kodon, Tilt block caldera wall
  • Kodon-kodon, Paleozoic basement
  • Silalahi, volcanic debris
  • Silalahi – Renun Caldera wall

Aspek Geologi

Panorama kawasan Silahisabugan, dilihat dari jalan raya Silalahi – Renun (atas), dan singkapan endapan OTT, memperlihatkan kekar kolom (kiri bawah) dan tekstur eutaxcitic (kanan bawah). Panorama komplek batuan dasar di kawasan Tongging – Silalahi (atas), bongkah-bongkah batuan dasar yang merupakan jejak runtuhan kaldera (tengah) dan singkapan batuan ‘pebbly mud stone’ atau batu-lumpur Gondwana, yang berumur Permo-Karbon.

Aspek Biologi

Geosite Silahi Sabungan dari aspek Biologi adanya Pinus (Pinus merkusii), Simartolu (Schima wallichii), Cengkih (Engenia aromatic), Mangga (Mangifera indica), Makkadame (Macadamia hildebrandii V. Steenis forma 1), Anggrek Tanah/Pijor Liman (Spiranthes sinensis).Rotan dengan batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras dan tajam. Rotan cepat tumbuh dan relative mudah dipanen serta ditransportasi. Ini dianggap membantu menjaga kelestarian hutan, karena orang lebih suka memanen rotan daripada kayu. Pohon Juhar/Jior (Senna siamea (Lam.) Irwin dan Barneby) Sejenis pohon trembesit, pohon yang sangat terkenal kuat dan keras. Pohon yang digunakan untuk pembuatan alat musik tradisional Batak yaitu sarune, dan lainnya. Dari kekayaan fauna adanya Ayam Hutan Merah (Gallus gallus), Ayam hutan merah (Gallus gallus) adalah nama umum bagi jenis-jenis ayam liar yang hidup di hutan. Jantan dengan betina berbeda bentuk tubuh, warna dan ukurannya. Ayam hutan jantan memiliki bulu yang berwarna-warni dan indah, berbeda dengan ayam betinanya yang cenderung berwarna monoton dan kusam, Kijang atau muncak adalah kerabat rusa yang tergabung dalam genus Muntiacus, dan lainnya.

Huta Lahi adalah nama sebuah desa yang yerletak di Kecamatan Silahisabungan kabupaten Dairi, Sidikalang. Huta Lahi merupakan kampung/desa yang pertama sekali dipukka oleh Raja Silahisabungan pada zaman itu. Dewasa ini menyatakan bahwa di Huta Lahi (Silalahi Nabolak) banyak keturunan Raja Silahisabungan yang berdomisili.


Aspek Budaya

Batu Sigadap atau Batu Pengadilan

Dari kearifan local budaya masyarakat setempat, batu ini merupakan batu yang terdiri atas dua buah batu. Satu diantara batu itu rebah (tergeletak) di tanah,itulah yang di sebut batu Sigadap. Sedangkan satu lagi posisinya berdiri (pertikal), itulah yang disebut Btu Sijong jong (Tindang). Kedua batu itu berukuran sekitar 15 cm (dia meter) dan panjang sekitar 50 cm dari permukaan tanah. Kedua batu itudi pagar deangan semen berbentuk bulat, di dalamnya ada tertulis “Mahkamah Pengadilan Tertinggi Keturunan Raja Silalahi Sabungan”. Batu ini pada zamannya merupakan sebagai Mahkamah Pengadilan Tertinggi yang dipergunakan oleh Raja Silahisabungan untuk mengadili orang yang bersalah. Ketika bahkan Lembaga Pengadilan Tertinggi belum ada, namun didaerah Silalahi sudah ada sebuah Pengadilan yang dibuat oleh Raja Silahisabungan yang tersohor itu.

Batu sigadap ini memberikan gambaran sebuah bentuk pengadilan. Contoh kasus yang diselesaikan adalah: Jika ada masalah pertikaian mengenai kepemili-kan tanah. Jika ada orang yang mengaku itu tanahnya padahal pemilik sebelumnya masih ada, maka pihak yang berselisih tadi akan dibawa ke Batu ini dan siapa yang benar akan terbukti. Begitu juga jika ada orang yang bersalah, dituduh mencuri atau pertikaian antara rakyat di Silalahi, maka untuk mencari solusi dan kebenarannya pihak-pihak yang berikai akan dibawa ke Batu ini dan dihadiri oleh Raja Silahisabungan beserta tetua-tetua dan masyarakat umum. Kepada yang bertikai tersebut akan diminta untuk bersumpah mengatakan hal yang sebenarnya dan jangan berdusta. Kepada siapa pun yang berdusta maka kebenaran akan muncul karena bagi yang berbohong dia akan jatuh (dalam bahasa Batak= Gadap) dan meninggal dunia. Namun bagi yang benar, maka dia akan tetap berdiri dan tidak akan terjadi apa-apa dengannya. Anda tertarik untuk melihat batu ini? Jika datang ke Silalahi jangan lupa menyinggahi lokasi Batu yang terletak di daerah Sidabariba Toruan Desa Silalahi I, berjarak sekitar 300m dari pusat Desa Silalahi I.

Batu Sigadap berupa dua buah batu keramat yang dipercayai mempunyai kekuatan mistik. Batu ini berbentuk memanjang dengan posisi, satu berdiri (jongjong) dan satu lagi tergelatak (gadap). Oleh penduduk Desa Silalahi, kedua batu tersebut dinamakan batu Sijongjong dan batu Sigadap, batu ini disebut Batu Panungkunan. Hingga sekarang batu ini masih masih ada dan dipercaya kebenarannya. Apabila kebenaran dan ketidakbenaran seseorang hendak diuji, maka dibawalah orang tersebut datang ke batu tersebut. Seseorang yang berani meletakkan sirih di kedua batu ini dan ingi nmengetahui kebenaran dan ketidakbenarannya dalam suatu perkara, maka apabila dia benar maka dia akan selamat seperti batu yang berdiri, namun apabila dia bersalah , dia akan gadap alias mati.

Aek Sipaulak Hosa

Aek sering juga orang mengatakannya Mual, yang artinya AEK SIPAULAK HOSA adalah Air Pelepas Dahaga/Capek. Aek sipaulak hosa ini terdapat tepat diperbukitan gunung yang ada di Desa Silalahi, yaitu Silalahi Nabolak. Menurut Turi-turian dan Cerita Rakyat, Aek sipaulak hosa ini terjadi akibat Permohonan/Permintaan Raja Silahisabungan kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) karena Istrinya Pinggan Matio boru Padang batanghari merasa letih seakan kehabisan tenaga di tengah perjalanan saat bersama Raja Silahisabungan.

Tugu Silalahi

Tugu Silalahi ini terletak di wilayah Raja Sidebang (salah satu anak Silalahi) yang dibangun tahun 1973 dengan tujuan untuk memindahkan tulang belulang Opung Silalahi beserta kedelapan anak-anaknya dan juga sebagai tanda pendirian kampung Silalahi. Dilihat dari tahunnya memang belum lama, namun dari nilai sejarahnya, sangat penting tugu ini untuk dilestarikan. Terdapat relief yang di cat berwarna-warni yang menceritakan perjalanan Opung Silalahi dalam membuka kampung tersebut.